Ubuntu 10.10 yang sangat Asik Sekali

Berawal dari perasaan penasaran yang selalu tumbuh ketika bertemu dengan kawan-kawan pengguna Linux yang berkreasi dengan bahasa-bahasa ajian mereka yang tidak saya mengerti. Akhirnya hari senin malam saya putuskan untuk mencoba ubuntu 10.10 dengan modal nekat. Nekatnya bukan hanya bondo nekat semata tapi memang saya mencoba untuk bisa belajar dan mengenal operasi system baru di laptop saya..hehehe… :mrgreen: Continue reading

Indonesia, Zamrud Khatulistiwa. Masihkah?

Pagi tadi saya mendapatkankan tugas dari kelompok kelas untuk mempresentasikan bagaimana Ekonomi Politik Sumber Daya Alam di Indonesia. Dari pembahasan tersebut kalau kita renungi ternyata Indonesia memang adalah negara yang sangat kaya raya Sumber Daya Alamnya. Akan tetapi pemanfaatan Sumber Daya itu sendiri sangatlah kurang dan sangat jauh jika melihat negara-negara berkembang lainnya. Apakah karena Indonesia sangat bergantung pada penggunaan Sumber Daya Alamnya sehingga terlena dengan luasnya alam di Indonesia?! Continue reading

Ramadhan dan Pasca Ospek FE UB

Benar-benar terasa Ramadhan tahun ini. Walaupun berbeda dengan tahun sebelumnya. Karena harus kuliah dulu baru merasakan nikmatnya Ramadhan di kampus. Tapi tahun ini harus berpeluh-peluh,kecapekan dan benar-benar kerja keras mensukseskan METAMORFE acara PK2Maba FE UB. Dan memang terasa sekali deh, di awal tarawih berangkat dengan penuh semangat! Harus mengejar waktu sholat isya’ karena habis ngahin uang kaos #indonesiaunite ke teman-teman yang memesan kaos tersebut (bukan nagih hutang ) dan nyaris ditabrak orang di daerah Jl. Merbabu, jalan sebelum rombong Ketan Duren cak Cosmos Alhamdulillah, sampai juga ke kost dan bisa siap-siap buat berangkat ke Masjid Komplek Perumahan yang ada di belakang.. :) Continue reading

Kegilaan Sepulang Kuliah

Saat kuliah Bahasa Indonesia yang isinya ceramah dan cerita terkadang geje abies di setiap jum’at..Yahoo Emoticonsmembuat pengen aja cepetan sang Dosen menyelesaikan ceramahnya dan memanggil satu persatu nama mahasiswanya…itulah saat-saat yang di nantikan…Yahoo Emoticonsmaafkan saya bapak Dosen.. Dan akhirnya selesai juga kuliah Bahasa Indonesia ini…pulang!!Yahoo Emoticonshehe…tapi setelah keluar dari kelas, aq dengan Tri juga Mas Fandi ada keinginan buat naik ke lantai 7 gedung Pasca FE-Unibraw. Awalnya hanya tiga orang saja yang ingin naik kesana,eeh…di lapangangan parkir ketemu lagi dua orang..Mas Radit dan Mas Naphie yang juga mau naik ke gedung Pasca FE-Unibraw. Finally, semuanya sepakat naik bersama meskipun kedua orang tadi menyusul karena mau ke Perpus Kota dulu. Ketika sudah pada mau naik, entah ada seseorang yang tiba-tiba aja menanyakan mau ngapain,waduhh..serasa dia punya gedung! nanya ini itulah…huffuntung aja dia langsung masuk ke WC..ckck,sangat aneh..klo mau ke WC ya ke WC aja toh bu..tanpa ba-bi-bu..kita bertiga segera menaiki tangga gedung Pasca FE ini dengan cepat..Monkey Emoticonssadar karena ga ada Lift Continue reading

Belajar Goblok?!?

finally…akhirnya memikirkan berhari-hari untuk membeli buku ini ke sampaian juga…

“Belajar Goblok dari Bob Sadino”

benar-benar buku yang mantap banget..pengantarnya saja sudah begitu mengasyikkan, isinya…hm..pastinya mantapz…

oke….untuk hari ini dan kedepan membaca serius buku ini dulu deh…

Belajar Goblok dari Bob Sadino

Belajar Goblok dari Bob Sadino

so..kalo uda ada hasilnya barudi amalkan….. :-D

Ambil Hikmah Dari Silaturahmi

“Sambunglah orang yang memutus silaturahim denganmu. Berilah hadiah kepada orang yang enggan memberimu. Dan jangan hiraukan orang yang menzalimi kamu.” (HR. Ahmad)

Jangan biarkan kebencian berkelanjutan

Selalu saja ada sisi positif dan negatif sebuah interaksi. Positif ketika interaksi memunculkan rasa cinta dan sayang, kuatnya persaudaraan, tolong menolong sesama mukmin. Dan negatif, saat interaksi meletupkan bunga-bunga api kekecewaan. Kebencian pun tak terelakkan.

Kebencian karena persoalan teknis semisal salah paham, emosi dadakan, mestinya hanya bertahan beberapa hari. Karena prinsipnya setiap mukmin punya satu ikatan: akidah Islam. Sehingga persoalan teknis di lapangan bisa cair sendiri bersama waktu dan kesibukan. Setelah itu, muncul lagi kerinduan.

Namun, begitulah setan. Emosi yang labil menjadi alat efektif pintu setan untuk mengobrak-abrik persaudaraan. Sesama mukmin menjadi marahan. Bahkan, pada dosis tertentu, marahan bisa diwariskan ke anak cucu. Na’udzubillah. Rasulullah saw. bersabda, “Cinta bisa berkelanjutan (diwariskan) dan benci pun demikian.” (HR. Al-Bukhari)

Putus persaudaran bukan hanya dilakoni para pelaku. Tapi, bisa diwariskan dari generasi ke generasi. Suatu hal yang mestinya tidak mungkin terjadi dalam diri seorang mukmin.

Siram api dengan air, bukan dengan api

Jika marah diibaratkan sebagai api, maka airlah yang paling cocok agar api segera padam. Tidak mungkin api akan padam dengan api. Dan air adalah perumpamaan yang pas buat silaturahim.

Sekeras apa pun sebuah kebencian, boleh jadi rapuh dengan beberapa celah kasih sayang dan sentuhan persaudaraan. Orang yang diumbar marah dan benci sebenarnya sangat membutuhkan perhatian. Tidak jarang, kebencian bisa luluh hanya dengan perhatian dan sapaan yang tulus.

Banyak kisah menarik di masa Rasulullah saw. tentang hal itu. Abu Sufyan mungkin orang yang paling sadis permusuhannya dengan Rasul. Siang malam, dia mengatur siasat bagaimana menghancurkan Rasulullah dan umat Islam. Tapi, justru Abu Sufyanlah yang paling mendapat kehormatan dari Rasul ketika Mekah diambang penaklukan. “Siapa yang masuk ke masjidil haram mendapat keamanan. Dan siapa yang berkumpul di rumah Abu Sufyan, juga mendapat keamanan.” Begitulah kira-kira pengumuman Rasul kala itu.

Bayangkan, seperti apa hati Abu Sufyan mendengar itu. Bingung, takjub, dan akhirnya luluh seratus persen. Dia pun berbalik menjadi orang yang siap membela perjuangan Rasulullah saw. di Mekah dan sekitarnya. Sungguh sebuah cara meluluhkan kebencian yang paling efektif tanpa menimbulkan kebencian baru.

Hadiah sebagai pelunak kekakuan

Ketika kles terjadi, yang mendominasi diri setelah itu adalah ego. Diri merasa paling benar, paling mampu, dan sebagainya. Kekakuan pun muncul begitu saja. Seolah, dalam dirinya cuma ada ego; tidak ada nalar, empati, apalagi kasih sayang sesama saudara seiman.

Jika tidak ada inisiatif mencari jalan damai, kekakuan terus berlanjut. Bahkan, bisa terwariskan ke anak cucu.

Sebenarnya, ada ruang-ruang dalam diri yang sejalan dengan waktu membutuhkan perhatian, kasih sayang, kerinduan. Terlebih sesama mukmin. Baik buruk sebuah hubungan persaudaraan bisa berbanding lurus dengan tingkat keimanan. Semakin kuat cahaya iman bersinar, rasa kasih sayang mulai mengganti ego dan benci. Lahirnya keharmonisan cuma tinggal menunggu momentum. Dan hadiah merupakan alat efektif menumbuhkan momentum itu.

Rasulullah saw. bersabda, “Hendaknya kamu saling memberi hadiah. Sesungguhnya pemberian hadiah itu dapat melenyapkan kedengkian.” (HR. Attirmidzi dan Ahmad)

Selalu pada komunikasi

Bisa dibilang, sebagian besar sebab munculnya kebencian karena salah menafsirkan sebuah ucapan. Atau, sebab molornya perseteruan karena tertutupnya peluang berkomunikasi.

Yang pertama memperlihatkan ketidakmampuan seseorang mengungkapkan maksud baik. Plus, tidaksanggupan pihak lain menahan diri membuat kesimpulan negatif. Ketidakmampuan mengutarakan maksud dan sifat reaktif di pihak lain menjadi perkara paling rawan munculnya kles.

Dengan begitu, saling membuka komunikasi adalah langkah paling tepat memperbaiki ketidakharmonisan. Dan itu akan berjalan efektif jika dua belah pihak siap saling mendengarkan. Sulit memunculkan keadaan saling pengertian seperti itu jika tidak dikondisikan dengan situasi yang penuh persaudaraan dan kekeluargaan. Dan silaturahim adalah cara yang paling pas.

Kasus Hathib bin Abi Balta’ah di masa Rasul bisa menjadi pelajaran. Para sahabat termasuk Rasulullah saw. kaget ketika tahu siapa pembocor rahasia penyerangan ke Mekah. Orang itu bernama Hathib. Kontan saja, Umar bin Khattab minta izin ke Rasul agar bisa menghukum Hathib. Tapi Rasul menolak. Beliau saw. meminta sahabat memanggil Hathib.

Penjelasan pun disampaikan Hathib. Sahabat yang masih punya keluarga di Mekah ini pun mengungkapkan keterpaksaannya demi keselamatan keluarga di sana. Itu saja. Tidak ada maksud membocorkan rahasia ke tangan musuh. Akhirnya, Rasul memaafkan Hathib.

Harus ada prakarsa agar kebencian tidak berlanjut. Dan yang terbaik adalah mereka yang lebih dulu mengawali kunjungan. Indahnya sebuah nasihat Rasullah saw., “Tidak halal bagi seorang muslim menjauhi (memutuskan hubungan) dengan saudaranya melebihi tiga malam. Hendaklah mereka bertemu untuk berdialog, mengemukakan isi hati. Dan yang terbaik, yang pertama memberi salam (menyapa).” (HR. Al-Bukhari)

jabat tangan

jabat tangan