Tukar Nasib…Bisa ga?!


Subhanallah..sore ini,tidak sengaja aku melihat acara Reality Show di salah satu Stasiun TV swasta yang bertema

“TUKAR NASIB”

yah,acara ini berisi tentang dua keluarga yang memiliki perbedaan 180 derajat. Ada satu keluarga yang benar-benar kaya yang segala sesuatunya serba ada semuanya, memiliki fasilitas yang lengkap, supir pribadi, dan semuanya pasti bisa didapatkan dengan uang.

Sementara keluarga satunya yang kurang mampu dan berebeda dari orang kaya, sang bapak yang seorang petani dan ibu rumah tangga biasa, mereka pun hidup serba ada juga. akan tetapi yang menjadi pembeda, mereka mendapatkan segalanya dari kebun sendiri, seperti sayuran, buah-buahan, bumbu masakan mereka hanya tinggal mengambil tanpa membeli. Ini lah perbedaan di antaranya.

Pak Joko, adalah seorang yang kaya yang ingin merasakan kehidupan menjadi orang kota. Kesehariannya bekerja di kantoran, bahkan keluarga terkadang terlupakan. Meskipun dia tinggal di daerah yang elite dan serba berkecukupan, ketika masuk di Desa, Dia tidak mampu berbuat apa-apa. Dia pun menggantikan pekerjaan yang biasanya di lakukan oleh Pak Nur, seorang petani desa yang biasa membajak sawah, memberi makan kepada sapi-sapinya dan semuanya dilakukan dengan enjoy-nya. Akan tetapi,Pak Joko yang tidak terbiasa melakukannya merasa kesulitan sekali dan benar-benar merasakan betapa sulitnya pekerjaan tersebut. Isti dari Pak Joko pun merasa kesulitan juga, ketika ingin mencuci pakaian dia harus pergi ke sungai dan jaraknya lumayan jauh. Jika ingin memasak, dia harus memasak dari kompor tungku, atau kompor yang bahan bakarnya berasal dari kayu bakar. Mereka merasa betapa sulitnya melakukan pekerjaan seperti ini selama tiga hari lamanya.

Pak Nur,seorang petani yang hidupnya berkecukupan dan tinggal di suatu desa. Merasakan hidup menjadi orang yang kaya dan sangat mewah. Mau melakukan sesuatu dan ingin sesuatu semuanya ada, menonton, bersantai-santai semuanya dilakukan oleh Pak Nur, Tapi keluarga ini pun merasa kesulitan selama tiga hari. Ketika ingin mencuci mereka bingung sekali karena tidak ada ember, atau sungai yang mengalir, tidak seperti di Desanya. Ketika ingin memasak, Isti Pak Nur pun merasa kebingungan juga,dia harus mencari batu bata untuk dijadikan sebagai kompor tungku. Dan dia memasaknya dengan kumpulan koran-koran yang di bakar. Padahal kompor gas sudah tersedia dirumah milik Pak Joko, tetapi keluarga tersebut merasa kesusahan. Walaupun mereka sekeluarga merasa hidup berkecukupan, mereka tidak betah dan tidak biasa melakukannya. Dan keluarga Pak Nur pun merasakan menjadi seorang yang kaya selama tiga hari juga.

Setelah tiga hari lamanya kedua keluarga ini menjalani perubahan 180 derajat dalam kehidupan sehari-hari, mereka kembali kedalam kediaman mereka masing-masing. Mereka dapat mengambil pelajaran-pelajaran dalam kehidupannya selama tiga hari tersebut.

Pertama,Keluarga Pak Joko. Mereka merasakan bahwa hidup itu harus menghargai orang lain. Dari anaknya juga istrinya mereka bisa mengambil pelajaran tersebut. Mereka melihat bagaimana orang yang tidak mampu di pandangan mereka bisa hidup seadanya. Pak Joko pun mengambil pelajaran bahwa bercengkrama dengan keluarga itu penting, karena dapat saling mengerti satu sama lain. Pak Joko merasa dirinya sangatlah sombong, ketika dia berada di dalam kantor. Dia merasa serba bisa, akan tetapi ketika mendapatkan pekerjaan yang biasa dilakukan oleh pak Nur, dia merasa tidak sanggup.

Kedua, Keluarga Pak Nur. Mereka merasa tidak enak menjadi orang kaya yang semuanya serba mewah. Dia merasa bingung menjadi orang kaya. Mereka memandang jika menjadi orang kaya itu tidak enak. Kalo mandi kesusahan dan ketika ingin masak bingung tidak karuan. Pak Nur merasa hidup di desa yang paling enak, ingin sesuatupun tinggal ambil ini dan itu. Sungguh, menjadi orang yang kaya ternyata tidak enak.

Setelah tiga hari lamanya mereka menjalani kehidupan yang berbeda 180 derajat dan pada akhirnya mereka kembali ke tempat asal mereka masing-masing dan saling memberikan hadiah. Pak Joko memberikan hadiah yang banyak, seperti mainan, dan lain-lainya untuk memberikan kepuasan bagi keluarga Pak Nur. Akan tetapi Pak Nur, hanya bisa memberikan pisang satu tandon (satu batang) kepada Pak Joko sekeluarga dan beberapa hasil dari kebunnya. Namun disinilah terlihat betapa harta itu tiada sebanding jika tidak bisa melakukan sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh orang lain.

Subhanallah, Betapa indahnya jika sesorang memandang yang berada di bawah derajatnya dan tidak melihat ke atas. Perbedaan itu indah, Perbedaan itu sangat lah luar biasa. Jadi, Hargailah orang yang ada disekitar kita. Apakah dia mampu atau tidak, tua atau muda, miskin atau kaya. Semuanya itu sama di mata Alloh, Dzat yang Maha Kuasa..

wallahu a’lam…

2 comments on “Tukar Nasib…Bisa ga?!

  1. mellowmeaw says:

    YUps…. w juga terharu tuh pas nonton mbuun… tpi otak w terlanjur sebel sama yg berbau sok reality gtu gra2 ditipu sama termehek2… jdi pas nonton itu kurang greget, ditambah konsep acara itu nyamain Jika Aku menjagi di Trans TV…. hehehe

    • fajarembun says:

      haha…padahal yg termehek-mehek itu memang udah rame dimillist rupanya…
      tapi klo liat tukar nasib ni ambil hikmahnya..reality show nya kan mmg ingin seperti itu..ngerasain jadi kaya ama miskin..
      bruntung di Malang ga ada termehek-mehek..wkakaka…

Comments

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s