Belajar Untuk Mendengar


Suatu hari, Rasulullah SAW didatangi oleh Uthbah bin Rabi’ah. Ia seorang utusan bangsawan Quraisy yang berniat membujuk Rasulullah agar berhenti berdakwah. Melihat Uthbah bin Rabi’ah datang, Rasulullah pun berkata kepadanya, ”Katakanlah wahai Abu Al-Walid (panggilan Uthbah), aku pasti akan mendengarkannya.” Setelah Uthbah bin Rabi’ah berbicara panjang lebar, Rasulullah SAW kembali bertanya, ”Apakah kamu telah selesai berbicara wahai Abu al-Walid?”Ketika utusan Quraisy itu menyampaikan unek-uneknya, Rasulullah SAW mendengarkannya dengan seksama. Setelah Uthbah selesai berbicara, barulah Rasulullah memintanya agar mendengarkan beliau, yang akan membacakan surat Fushilat kepadanya. Akhirnya Uthbah pun yakin bahwa apa yang diserukan Rasulullah adalah kebenaran yang datang dari Dzat Yang Mahabenar. Surat Fushilat, antara lain, menjelaskan, Rasulullah adalah manusia biasa yang diberi wahyu yang mengajak pada kebenaran.

Begitu juga, ketika Rasulullah SAW berhadapan dengan Khaulah binti Tsa’labah, yang mengadukan tingkah laku suaminya, Aud bin Shamit. Suaminya itu tanpa sebab yang jelas ingin menjauhi Khaulah. Dengan keteduhan dan perasaan mengayomi, Rasulullah berhasil membuat Khaulah merasa keluhannya diperhatikan dan didengarkan. Keluhannya tentang sang suami ditanggapi dengan baik oleh Rasulullah. Itulah sebabnya, Khaulah tidak merasa sungkan bercerita tentang problemnya kepada Rasulullah, sehingga jelas jalan keluar dari permasalahan yang menimpanya itu.

Mendengarkan merupakan suatu proses yang menentukan, apakah hubungan akan berlanjut secara efektif dengan orang lain atau tidak. Dan, ini memerlukan kekuatan emosional. Mendengarkan memerlukan kesabaran, keterbukaan, dan keinginan untuk mengerti perasaan orang lain. Tentu saja, untuk mencapai pola ideal seperti ini diperlukan proses kelapangan dada yang harus dilakukan dan dipelajari terus-menerus hingga menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari akhlak keseharian.

Kalau kita perhatikan, terjadinya berbagai aksi yang sering berakhir dengan bentrokan, yang banyak memakan korban, terjadi karena adanya pihak-pihak yang mengabaikan sikap mengalah dan mau mendengarkan apa yang menjadi unek-unek pihak lain. Padahal, tindakan mendengarkan ini memiliki kekuatan emosional yang mampu meredam ketegangan. Namun, mereka mengabaikannya. Akibatnya, terjadilah apa yang seharusnya tidak perlu terjadi.

Terkait dengan pentingnya kebiasaan mendengarkan ini, ulama (asy-Syahid) Abdullah Azzam dalam kitabnya Tarbiyah Jihadiyah menjelaskan bahwa hikmah karunia dua telinga dan satu mulut yang dimiliki manusia adalah agar manusia lebih banyak mendengar daripada bicara.

Esensi dari penjelasan itu adalah agar manusia, terutama para pemimpin dan tokoh masyarakat, tidak terlalu mengobral kata-kata. Dengan kata lain, agar manusia mampu mengendalikan lidahnya, di samping berupaya memfungsikan telinga untuk mau dan bersabar mendengarkan berbagai hal dari orang lain. Wallahu a’lam

-dari sebuah lembaran taujih yang di berikan seseorang ketika sedang di kampus-

fajar_embun

One comment on “Belajar Untuk Mendengar

  1. aLe says:

    Yup,
    Mendengar kata hati jg penting,.

Comments

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s