Menggenggam Pasir


Matahari telah hampir tenggelam ketika dua orang tampak sedang menyusuri pantai. Keduanya terlihat bergerak mengikuti pergelakan senja. Warna merah keemasan diatas ufuk, menambah suasana malam kian kental. Tak ada pekik camar di sana. Debur ombak pun terdengar lirih. Yang ada hanya suara hembusan nafas yang teratur.

“Guru, waktuku belajar telah hampir usai. Besok aku akan kembali ke istana dan dinobatkan menjadi raja baru. Tapi, ada satu pesan yang di bisikan Ayah kepadaku: menjadi raja itu seperti mengenggam pasir. Apa maksud perkataan itu, Guru?”

sang guru terdiam sesaat. Resih tua itu pun berkata, “kalau itu kita Baginda, mari kutunjukan sesuatu.” Di ajaknya sang murid kearah baratan, “Ambilkan aku segengam pasir di sana!” sang calon raja itu pun menurut.

Namun pekerjaan itu ternyata tak semudah yang di bayangkan. Saat pasir itu di genggam, banyak sekali yang berhamburan. Butir-butir pasir, selalu  menyelusup diantara jari-jari. Makin kuat kepalan itu dieratkan, makin banyak butiran pasir yang terjatuh.

“Ayahmu benar, menjadi raja memang seperti mengenggam pasir. Butuh kebijaksanaan dan jiwa besar,” ucap sang guru bijak. “Tapi cubalah kau ambilk pasir itu dengan tangan terbuka. Tangan yang menghadap ke atas, niscaya tak akan banyak yang terbuang percuma. Ia dapat menjadi wadah yang baik untuk semua pasir di sana.”

“Begitupun menjadi raja. seorang raja, akan membutuhkan tangan yang selalu terbuka dalam menerima keluh kesah rakyatnya. Jangan kau kepalkan telapakmu, jangan kau eratkan genggamanmu. Biarkan terbuka, agar makin banyak yang berhimpun di sana. Biarkan tertangkup, agar tak hilang apa yang ada dalam sana.”

Sang calon raja terdiam merenungi perkataan itu. Saat fajar mereka besok, ia akan menjadi raja yang baru. Kepalan tangan dan butiran pasir menjadi tempat baginya menemukan jalan kebijaksanan. Esok, ia akan menjadi raja dengan “ Tangan terbuka”. Bukan dengan “Tangan terkepal”.

Menjadi raja, bisa jadi sama halnya dengan menjadi manusia biasa. Sebaiknya menemukan jalan-jalan menuju kejiakan.

Pernahkah kita merasa ingin sekali menggemgam dunia? Adakah terlintas dalam pikiran untuk menghimpun semuanya dalam satu kepalan? Dunia dan kebahagiaan tak selamanya di dapat denag tanga yang menggenggam atau telapak yang mengepal. Semakin bernafsu kita memperelat genggaman, semakin banyak yang akn hilang.

Adakah kita berusaha menggapainya dengan tangan yang terbuka?  Bisakah kita meraihnya dengan tangan tengadah, tertangkup seakan penuh harap berdua kepada-Nya? Saya percaya, itulah jalan-jalan yang terbaik.bukan dengan menggenggam keras, atau mengepal penh nafsu. Tapi denga tangan toleran bukan membenci, tangan mengayumi bukan memceraikan, tangan sabar bukan bernafsu, tangan tekun bukan yang terburu-buru.

Saya percaya, tangan-tangan semacam itulah yang menjadi jalan-jalan kebijakan buat kita.

fajar_embun

Comments

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s