Perjuangan Ibu untuk anaknya agar bisa mendengar


bOm² tersentuh membaca sebuah tulisan dari seorang ibu, Bu Roy yang memperjuangkan seorang anak gadisnya untuk mampu mendengar.Shafa adalah seorang tuna rungu.Sekarang berusia 18 tahun. Tingkat ketunarunguan: profound atau sangat berat.

Terdeteksi tuna rungu pada usia 24 bulan. Menggunakan alat bantu dengar (ABD) pada usia 4,5 tahun. Mulai terapi wicara pada usia 5 tahun, dan kini Shafa bersekolah di SMU Negeri 3 Cimahi kelas 3, Shafa selalu meraih peringkat pertama di kelasnya (juara kelas). dan ini semua berkat kegigihan dan perjuangan seorang ibu yang begitu kuat untuk berusaha.

bOm² mengenal bu Roy ketika ada acara di Malang, dan saat itu Kakak *panggilan akrab kami* menjadi pembicara di acara tersebut. dan selama ini bOm² berintaksi dengan beliau dari Multiply.

Semoga mampu memberikan inspirasi

Hanya satu alat untuk telinga yang sebelah kiri. Sebelumnya ibu dan Ayah telah menguras sebagian besar tabungan mereka agar hari itu juga aku bisa mulai memakai Alat Bantu Dengar. Dengan semangat mereka pulang ke rumah sambil membayangkan bagaimana rupaku saat mendengar suara mereka untuk pertama kalinya. Tentu aku akan senang pikir mereka.

Namun orangtuaku boleh berusaha, tapi aku jugalah yang menentukan. Betapa kecewanya mereka ketika bayangan mereka salah besar. Sesampainya di rumah aku tidak mau sama sekali memakai alat yang telah menghabiskan sebagian besar tabungan Ayah dan Ibu tersebut. Berbagai cara mereka lakukan agar aku mau memakainya. Membujuk, merayu, mengiming-imingi, sampai akhirnya kembali memakai strategi andalan mereka. Membuatku tersiksa.

Apapun keinginanku jadi semakin sulit terkabul. Padahal aku telah ‘bicara’ setiap saat mereka menyuruhku. Tapi sejak alat itu ada, meski aku telah ‘bicara’, dan kadang-kadang tanpa disuruh, keinginanku tetap saja tidak terkabul. Sebelum aku memakai alat yang tersimpan didalam lemari ibu itu, tidak akan ada snack, ice cream, main komputer, bermain bersama Teteh Mauren.

Ya, aku memang telah mempunyai seorang teman. Namanya Mauren. Aku memanggilnya Teteh Mauren karena ia lebih tua dua atau tiga tahun dariku. Ia adalah anak perempuan tetangga bersebelahan rumah denganku. Hampir setiap hari kami bermain sama. Seringnya adalah waktu sore hari, saat ia dan aku disuapi makan malam. Teh Mauren adalah teman pertamaku dan satu-satunya saat itu. Hobinya sama denganku, yakni berlari-lari kesana kemari membuat kewalahan siapapun yang sedang menjaga kami, serta meloncat-loncat kegirangan seperti tupai setiap penjaga kami kelihatan kepayahan mengejar. Teh Mauren selalu dijaga dan disuapi ibunya, aku dijaga berganti-gantian oleh ibu, atau Bibi Ningsih, atau Ci Yofi, Tante Ana, jika mereka sedang berkunjung kerumah. Aku tidak bicara, Teteh Mauren belum lancar bicara. Semakin kompaklah kami bermain bersama.

Ibu sungguh kejam. Kalau cuma tidak diperbolehkan main komputer, aku mungkin bisa bersabar. Tapi dilarang bermain bersama Teh Mauren, memang bisa membuat hatiku tidak tahan. Aku menangis sejadi-jadinya ingin bermain dengan Teh Mauren karena dia telah terlihat datang dihalaman rumahku sore itu. Tapi alat itu harus dipasang dulu ditelingaku jika aku ingin keluar menemuinya.

Aku keras kepala, tetap tidak mau memakainya dan hanya ingin bermain bersama Teh Mauren tanpa memakai alat itu. Ibu menolak tegas keinginanku meski aku telah memohon-mohon padanya dengan cara berguling-guling dilantai. Tak bergeming, kepala dan tangannya menggeleng kuat. Alat itu diacung-acungkan terus padaku membuatku mulai berguling-guling bercucuran air mata. Ibu tidak memperdulikan rajukan histerisku itu. Ia tenang-tenang saja dan malah mengurungku didalam dengan keluar berbincang-bincang senyum-senyum bersama ibunya Teh Mauren.

Dari kaca kulihat Teh Mauren berusaha mengintip-intipku sambil mengunyah makanannya. Ia tidak tahu aku sedang memanggilnya, karena yang bisa aku lakukan hanya memperkeras suara tangisanku. Lama aku terus menangis sampai hari mulai gelap dan ibu telah menutup gordyn ruang tamu setelah Teh Mauren dan ibunya menghilang dari halaman rumahku. Ibu hanya menatapku sekilas lalu beranjak menyalakan lampu-lampu dan menyemprotkan obat nyamuk diseluruh bagian rumah kami. Tidak sekalipun ia menengok kembali padaku yang sudah mulai kelelahan terisak-isak kecil. Aku dibiarkannya begitu saja sampai tertidur sendiri di lantai yang sama tempatku berguling-guling bersama air mata dan ingus yang mulai kering.

Peristiwa itu masih terekam dalam memoriku sampai sekarang. Satu dari sedikit peristiwa yang masih bisa kuingat dimasa-masa awal aku mulai memakai Alat Bantu Dengar. Banyak sekali sebenarnya cerita yang aku dengar dari orang-orang mengenai betapa kerasnya ibu berusaha membuatku mau memakai alat tersebut. Aku akan singkat saja semua cerita itu: Kreatif, kadang-kadang tidak masuk akal dan kejam.

Baru setelah cukup lama dan akibat usaha tidak kenal menyerah dari ibu dan semua orang lainnya, aku mulai terlihat tertarik memakai alat tersebut. Sepuluh menit sehari, setengah jam, satu jam, dua jam, lalu aku lepas karena terasa pegal.

Terkejut, tercengang, bingung, penasaran, heran, takut, senyum-senyum sendiri, pusing dan berdebar-debar. Perasaanku campur aduk saat pertamakali aku menggunakan Alat Bantu Dengar. Aku takjub. (mulai sekarang, kalau mau, silahkan memakai terjemahanku sendiri ini mengenai arti kata takjub. Dijamin lebih tepat dari pada kamus, yakni; Campur aduk terkejut, tercengang, bingung, penasaran, heran, takut, gembira, pusing dan berdebar-debar. Dua perasaan terakhir ini biasanya terjadi kalau unsur terkejut kelewat besar dan anda adalah seorang perempuan).

Apa yang terdapat dalam alat itu penyebabnya. Untuk pertamakalinya dalam hidupku aku tahu ada sesuatu yang lain yang mampu aku rasakan selain melihat, mencium, meraba, dan mengecap. Aku mulai melihat jawaban atas pertanyaanku selama ini, seperti kenapa ayah menolehkan kepala saat ibu dari ruang makan menggerakan mulutnya. Kenapa setiap hari hujan, tiba-tiba kaca rumah bergetar dan Bi Ningsih langsung menutup telinganya.

Jawaban itu pasti hal baru yang aku rasakan saat ini. Sesuatu yang sebagian sifatnya sama dengan hasil olah kemampuanku yang lain, tapi dimensi dan fungsinya punya cara yang berbeda. Kurang lebih seperti kalau mata membuatku paham sebuah jarak, sesuatu dalam alat itu membuat aku juga bisa merasakan sebuah jarak meski dalam keadaan mata tertutup.

Benar-benar sebuah pengalaman baru yang membuatku seolah tinggal tidak dirumah yang sama dan hidup tidak di dunia yang sama lagi. Sejak ibu mulai sering berhasil memasangkan alat itu ditelingaku, aku jadi sering takjub dan merasa sangat asing dengan seisi rumahku sendiri. Dari dapur saat ibu memasak, ketakjubanku sering terjadi pada saat ikan baru dimasukan ibu kedalam penggorengan yang panas. Dari jam dinding diruang tamu, aku sering takjub setiap jarum panjang berdiri lurus menun-juk keatas. Sumber yang paling sering membuatku takjub, bahkan setiap detik, adalah jika televisi diruang tengah dalam keadaan menyala. Sebenarnya televisi merupakan salah satu benda rumah kesukaanku sejak dulu. Tapi dengan alat itu, televisi tersebut berubah menjadi benda yang paling menakjubkan. Semua ‘unsur’ takjub dalam definisiku di atas tadi terasa dua kali lipat lebih dahsyat. Alhasil bisa seharian aku tertakjub-takjub melongo didepannya.

Semua yang aku dengar dinamakan suara atau bunyi. Mendengarkan suara atau bunyi adalah satu dari lima kemampuan yang dipunyai manusia normal. Aku tidak ingat sama sekali apakah seseorang pernah mendefinisikan hal ini sejelas itu padaku. Guruku di sekolah kemudian, hanya memberikan keterangan tambahan, bahwa mendengar suara atau bunyi adalah satu dari lima kemampuan indera dasar yang dipunyai manusia. Istilah lainnya panca indera. Lima indera manusia. Empat diantaranya telah aku punyai selama ini, dan kini aku mulai selengkap manusia normal lainnya. Bisa melihat, mengecap, meraba, membau, dan MENDENGAR.

Sungguh luar biasa. Aku betul-betul tidak pernah menduga alat itu penyebabnya.

Melihat semangat belajar mendengar dan berbicaraku yang tumbuh sedemikian besarnya, ibu pun tidak tinggal diam menunggu catatan yang kusodorkan begitu saja. Ia mendadak berbuat seperti orang kurang waras, dengan membunyikan benda apa saja yang menurutnya bisa berbunyi. Panci, ember, kaleng, piring, gelas, botol, sendok, pokoknya semua benda yang bisa berbunyi dirumah kami, habis jadi korbannya. Tidak jarang, aku sendiri hampir jadi korban kekurangwarasannya itu kena serangan jantung.

“Kakak, coba dengar..” kata ibu meminta perhatianku. Praaaaangg…! sebuah piring dijatuhkannya kelantai saat aku sedang asyik melamun.

Dikesempatan yang lain, ibu pernah mengagetkanku yang hendak tertidur. “Kakak, Dengar ini ” kata ibu lagi. ‘taaaaaannng..!!’ Gendang ABD ku hampir pecah saat wajan digebuk ibu, dekat denganku.

Braaaakk..! lain waktu sebuah ember penyok dipukul kuat ibuku, saat aku sedang ‘sibuk bertahan’ menunggu giliran keka-mar mandi.

Tidak hanya itu, semua binatang yang kebetulan berpapasan dengan kami, kalau tidak waspada, bisa jadi korban ibu juga.

“Miauuuwww!” Suatu hari seekor kucing menjerit histeris sambil mengeluarkan cakarnya panjang-panjang, saat tiba-tiba ibu meloncat cepat ke depan hidungnya dengan muka menyeringai aneh.

“Grrhll…,Grrrrr..rrllhhh!”, seekor anjing tetangga mengadakan perlawanan pada ibu yang kembali menakuti-nakutinya. Hari sebelumnya anjing yang sama sempat terkaing-kaing lari ketakutan melihat kami yang menggeram ganas padanya. Kini giliran kami yang ketakutan. Sambil berdebar-debar mundur menjauhi anjing itu, ibu masih sempat bersuara, “Nah, itu suara anjing yang marah Kak. Perhatikan beda suaranya dengan kemarin ya.”

Setiap perbuatan ibu yang kurang waras itu selalu diakhiri dengan penjelasan. “Nah, ini bunyi pring jatuh. Nah, Ini bunyi piring dipukul, ini bunyi ember penyok, itu bunyi besi beradu, itu bunyi kucing, kokok ayam, dan sebagainya.”

Itu saat dirumah. Diluar rumah, saat kami sekeluarga berjalan-jalan di hari minggu, penjelasan ibu jadi seperti: “Itu bunyi motor bebek, bunyi motor vespa, mobil besar, mobil kecil, bemo, klakson, peluit polisi, dan lain-lain”. Atau jika jalan-jalannya ke Ragunan penjelasannya jadi “Itu suara macan, suara burung, suara gajah, dan sebagainya”

Bunyi tertentu, yang bendanya susah didapatkan, seperti  sirene, suara kereta api, dll., jika merasa perlu maka ibu akan mencari cara untuk mendapatkan suara itu lalu merekamnya kedalam tape recorder andalannya yang selalu dibawanya kemana-mana. Sesampainya dirumah, rekaman itu akan diperdengarkan langsung padaku, berikut penjelasannya. Atau jika televisi tiba-tiba memunculkan suara yang kira-kira belum pernah aku dengar, ibu tergopoh-gopoh akan mencari dan menggotongku dari manapun aku berada lalu mendudukanku di depan Televisi sambil ngomong “Dengar Kak!, kalau ini bunyi…”

Sekali lagi kutegaskan asal mendengar sesuatu yang berbunyi saat aku berada didekat ibu, ibu akan selalu menjeaskannya, mengingatkannya, menanyakan, dan mengingatkannya lagi. Betul-betul cerewet. Hanya Tuhan yang tahu.

5 comments on “Perjuangan Ibu untuk anaknya agar bisa mendengar

  1. bibi criwis says:

    Subhanallah.. perjuangan seorang ibu demi anak yang disayanginya sungguh luar biasa.. kasih ibu memang sepanjang khayat.. salam hangat, Bom2..

  2. AngelNdutz says:

    hmmm
    *gaiso ngomong opo²*

  3. Subhanallah..seorang ibu selalu menginginkan yang ‘terbaik’ buat anaknya.

  4. kikakirana says:

    kehebatan orang tua untuk memberikan yang terbaik buat anak nya🙂
    salam kenal..

  5. az-zahra says:

    Subhanallah … ibu adalah sejuta cinta, bahkan lebih, tepatnya dia adalah cinta yang tak kan pernah habis🙂

Comments

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s