Ikhlas Dalam Beramal


Seorang lelaki ikut hijrah dari Makkah ke Madinah lantaran perempuan idaman yang hendak dinikahinya bersama Rasulullah SAW. Melihat peristiwa itu Rasulullah pun bersabda, ”Sesungguhnya setiap amal (perbuatan) disertai niat. Dan sesungguhnya perbuatan setiap orang sesuai dengan apa yang diniatkannya. Maka, siapa yang hijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, ia akan memperoleh keridhaan Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang berhijrah untuk (mengharapkan) keuntungan dunia atau untuk menikahi seorang perempuan, maka (yang diperolehnya) sesuai pula dengan apa yang ditujunya.” (HR Bukhari-Muslim).

Hadis di atas menjelaskan bahwa setiap Muslim dilarang melakukan pekerjaan dengan motivasi selain mengharapkan ridha Allah SWT. Motivasi selain itu akan membuat pekerjaan sia-sia dan tidak bernilai pahala di sisi-Nya, kecuali sekadar mendapatkan apa yang ditujunya.

Di lain waktu seorang lelaki lain mendatangi Rasulullah SAW menyampaikan laporan bahwa dirinya telah berperang menegakkan agama Allah SWT dengan mengharapkan ridha-Nya, akan tetapi sekaligus mau memperlihatkan kemampuan dan kedudukannya kepada orang banyak. Rasulullah SAW terdiam mendengar laporan itu, hingga turun ayat: ”Katakanlah (Muhammad)! Sesungguhnya aku manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwa Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa. Siapa yang mengharapkan bertemu dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal saleh dan janganlah mempersekutukan Tuhannya dengan seseorang/sesuatu pun.” (Al-Kahfi: 110).

Ayat itu memberikan pengertian bahwa setiap pekerjaan yang dilakukan untuk mengharap ridha Allah SWT, tidak boleh ditimpali/digandakan dengan motivasi selain-Nya. Setiap amal saleh yang dilangsungkan dengan niat ganda itu akan jadi rusak dan tidak berhasil mendapatkan ridha Allah SWT. Jadi, satu-satunya motivasi yang dibenarkan dalam melakukan amal saleh hanyalah untuk mendapatkan ridha Allah SWT. Inilah yang disebut dengan ikhlas dalam beramal.

Di antara contoh amal saleh itu adalah membelanjakan harta di jalan Alah SWT. Untuk menjaga keikhlasan di sana, ada tuntunan Allah SWT. Firman-Nya, ”Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (Al-Baqarah: 262).

Berdasarkan ayat di atas, setiap orang yang beramal saleh dilarang menyebut-nyebut atau membanggakan amal saleh yang dilakukannya, kendati ia berulang kali menyatakan amalnya itu dilakukan dengan ikhlas. Bukankah dalam Alquran ada surat Al-Ikhlas yang tidak menyebut kata ikhlas di dalamnya, sementara surat lain memuat kata yang ada pada nama surat itu, seperti Al-Baqarah, Al-Kahfi, An-Nur, dan sebagainya? Apalagi kata dan perbuatan yang menyakitkan, akan lebih terkesan oleh setiap orang dibanding jasa baik yang diberikan kepadanya. Wallahu a’lam.

5 comments on “Ikhlas Dalam Beramal

  1. oen says:

    hayooo niatnya buat tulisan ini apa nih… :p

  2. Neng Ucrit says:

    postingan yg bagus bom..

  3. iLLa says:

    bahkan dua rakaat shalat kita pun belum tentu menjadi pahala bagi kita, jika dilakukan bukan karena Allah SWT.
    Thanks for remind us..

  4. hanifilham says:

    bener2… niat untuk Allah SWT semata, gak kurang gak lebih. rugi kalau ibadah sudah susah payah tapi niatnya gak lurus.

Comments

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s