Nasyid dan Acapella


Berbicara tentang nasyid merupakan sesuatu yang sangat penting di bicarakan. Sebagai seni nasyid juga bisa menjadi sebuah media dakwah dalam menyampaikan sebuah pesan yang terkandung di dalam setiap syairnya. Dari segi sejarah saya ketahui sudah ada sejak lama dan banyak sekali macam-macamnya. Tetapi yang perlu di garis bawahi dalam tulisan ini adalah nasyid yang lebih cenderung memandang sebuah syair dan beberapa hal mengenai nasyid.

Mengapa di katakan nasyid? Sepengetahuan saya nasyid masuk ke Indonesia pada era 80an dan berkembang hingga pada era 90an di kenal di kalangan Universitas,dari kampus ke kampus seperti yang di jelaskan disini. Saya sendiri mengenal nasyid sejak SD saat itu Abah saya menyuguhkan sebuah nasyid atau mungkin music Religi legendaris, Bimbo. Mulai zaman kaset dengan kotak tebal,hingga beralih menjadi CD ketika saya akan menamatkan pendidikan dasar saya. Di sela-sela itu saya mulai mengenal juga Haddal Alwi dan Sulis dengan sholawatnya, juga Raihan tim nasyid dari negeri Jiran. Sejak mengenal Raihan itulah saya lebih tertarik dengan sebuah tim pada sebuah nasyid.

Hingga ketika saya menempuh pendidikan di Pondok saat pendidikan menengah saya, saya menjadi banyak mengetahui macam-macam tim nasyid di Indonesia, penyebabnya? saat itu di bagian depan pintu gerbang pondok pesantren saya ada sebuah kios kecil yang menjual pernak-pernik Islami. Disitulah saya akrab dengan penjaga tokonya dan di kenalkan macam-macam nasyid. Justice Voice adalah tim nasyid acapella yang pertama kali saya kenal. Dengan Albumnya yang saat itu “Lihat Dunia” saya kemudian bisa di bilang ngefans dengan sebuah tim nasyid. Unik,lucu,kreatif dan beberapa nasyidnya bisa membuat saya nangis *halah. Kemudian saya mengenal Snada juga Suara Persaudaraan yang hingga saat ini Suara Persaudaraan sangat dekat dengan saya karena dulu di saat menempuh pendidikan SMA,salah satu personilnya adalah pengasuh pondok saya di Malang dan menjadikan saya semakin mengetahui perkembangan nasyid saat itu.

Ketika di Malang pun disaat berada pada pondok pesantren,adalah salah satu ekstra kurikuler nasyid dan tanpa basa-basi saya langsung mengikutinya, gimana tidak basa-basi yang mengajar ya personil Suara Persaudaraan (Alm.Siswaji Purba) dan pastinya saya masi ngefans dong karena yang mengajar itu ‘artis’ yang saya banggakan dengan keunikan dan keanekaragaman acapella nya. Terhitung sejak tahun 2003 saya menggiati kegiatan nasyid tersebut. Hid Voice (Hidayah Voice) merupakan tim nasyid senior yang ada di pondok pesantren saya. Sejak tahun 2000 mereka sudah merintis tim nasyid di sana, dari SMA ke SMA,ke masyarakat sekitar mereka mengenalkan sebuah nasyid. Dan di tahun 2004 saya resmi di rekrut menjadi personil Hid Voice, saya belajar otodidak! tidak mengetahu partitur sebuah nada secara utuh, mengandalkan kepekaan saja dalam perbedaan suara dalam acapella dan berbekal ilmu saat di pendidikan dasar dulu tentang nada-nada dan di tahun 2005 saat Hid Voice berganti nama menjadi EMBUN Alhamdulillah bersama tim ini saya mulai belajar perlahan-lahan.

Dari panggung ke panggung dan dari satu acara seminar ini dan itu, bahkan ke suatu acara walimah ke walimah yang lain saya jalani bersama tim nasyid EMBUN ini. Sebuah tim nasyid acapella yang sudah seperti menjadi keluarga ini saya berjalan bersama hingga saat ini. Nasyid menjadi sebuah karir (mungkin) bagi saya dan menjadi sebuah media dakwah bagi kami. Memang banyak sekali beberapa nasyid lain yang bersolo karier dengan musik-musik yang mengiringi bagi saya mereka juga sama-sama memberikan sebuah pesan dan nasehat kepada mereka yang mendengarkan. Tetapi bagi saya dengan tim nasyid ini, saya merasa mereka lah yang menjadikan saya ada. Disaat suara-suara mulai berhamonisasi disitulah letaknya kebersamaan, keunikan dan ikatan hati juga ukhuwah antara satu dengan lainnya. Masi terngiang pada diri saya saat masih menjadi santri dulu, ketika salah satu senior saya jatuh sakit dan harus di pulangkan ke rumahnya di daerah Purwodadi.Pasuruan. Alm. Siswaji,Ustadz dan juga pengasuh saya mengajak untuk menjenguk saudara saya tersebut. Subhanalllah,disitulah saya di ajarkan bagaimana indahnya sebuah ukhuwah.

Sebuah tim harus saling mengisi kekosongan yang ada pada suatu harmonisasi suara. Dari situlah pada kehidupan sehari-haripun mereka menjadikan sebuah pedoman dan membuat kita saling mengingatkan dalam hal kebaikan dan menghindari sebuah kemungkaran. Semakin berjalannya waktu ada yang datang juga yang pergi pada tim ini, namun mereka yang pergi karena sebuah amanah yang lain telah banyak memberikan pelajaran dan hikmah sebuah keluarga kecil,ikatan ukhuwah,sebuah organisasi,sebuah kesatuan yang akan memberikan nilai tersendiri bagi diri saya. Itulah keunikan dalam nasyid ini,tim ini yang mereka seperti keluarga sendiri. Tidak hanya pada tim Embun, juga tim lain mereka sama-sama memperjuangkan syiarnya Islam untuk disampaikan kepada masyarakat.

Kadang ada yang bertanya apa untungnya bernasyid, kalau boleh saya menjawab untungnya secara fisik mungkin tidak seberapa akan tetapi materi yang ada di dalamnya.Sebuah kekuatan hati, kekuatan kebersamaan yang mungkin ketika di masa tua nanti akan menjadi kisah indah bagi saya pribadi, ketika mereka yang ada pada tim nasyid saya bisa membuat saya bangga atas prestasi mereka. Mereka yang ada pada tim nasyid ini adalah kakak, sahabat yang bersama-sama menyampaikan sebuah pesan moral juga menyampaikan sebuah nasehat yang tidak semua orang bisa menyampaikannya. Saya bahagia, berada pada tim nasyid ini dan saya merasa kebersamaan dengan sahabat seperjuangan tidak dapat tergantikan.

Semoga dengan kebersamaan sebuah tim nasyid tersebut mampu menguatkan langkah saya dalam menyampaikan sebuah pesan nasehat kepada masyarakat. Semoga mempu menguatkan ikatan ukhuwah dan hati sesama sahabat perjuangan, insyaAlloh nikmat persaudaraan ini akan selalu terjaga hingga waktu akan berbicara..wallahu a’lam…

 

.

.

.

.

3 jam menjelang performance pada acara Ceramah Dakwah bersama Ustadz Yusuf Mansur di Hotel Olino..

in memoarium; Senior Hid Voice,Almarhum Siswaji Purba (Suara Persaudaraan),Oki-Azmee-Indrawan-Arief (sahabat perjuangan di Embun) Semoga Alloh merahmati kalian semua…

One comment on “Nasyid dan Acapella

  1. Alm. Ust. Siswaji Purba.. The best teacher and the best coach in my life…

Comments

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s